Syarat Sah, Rukun, dan Sunnah Wudhu Sesuai Ajaran Islam

AlifAbianda.com – Sebelum melaksanakan ibadah shalat wajib maupun sunnah, terlebih dahulu kita harus mengetahui syarat sah dan juga rukunnya. Nah, salah satunya adalah bersih dari hadas besar dan kecil, kalau hadas besar dapat disucikan dengan mandi wajib/junub, maka hadas kecil disucikan dengan cara berwudhu.

cara berwudhu yang benar

Pada artikel kali ini akan dibahas apa saja syarat sah, rukun dan sunnah wudhu beserta tata-caranya berdasarkan pendapat beberapa kitab karangan Imam-imam besar umat Islam dan Sunnah Nabi.

Kitab Safinatun Naja karangan Syekh Salim bin Sumair al-Hadrami menjelaskan tentang syarat sah wudhu yang terdiri dari 10 hal yang harus dipenuhi.

شروط الوضوء عشرة: الإسلام، التمييز، والنقاء عن الحيض والنفاس، وعما يمنع وصول الماء إلى البشرة، وأن يكون على العضو ما يغير الماء و العلم بفرضيته ، وأن لا يعتقد فرضا من فروضه سنة، ، والماء الطهور، ودخول الوقت والموالات لدئم الحدث

Syarat sah wudhu ada 10: Islam, tamyiz, bersih dan terbebas dari darah haid atau nifas, terbebas dari hal-hal yang mencegah air untuk mengenai anggota wudhu, terbebas juga dari hal-hal yang dapat mempengaruhi atau dapat merubah air, tidak meyakini bahwa fardhunya wudhu adalah bagian dari sunnah, masuk waktu shalat, dan berulang-ulang.

Penjelasan lebih lanjut tentang syarat wudhu dijabarkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya yang berjudul Kasyifatus Saja.

Syarat Sah Wudhu

1. Islam

Imam Nawawi berpendapat bahwa wudhu adalah ibadah badaniyah, karena itu secara jasmani hanya orang beragama Islam lah yang sah dan boleh berwudhu.

2. Tamyiz/Mumayyiz

Tamyiz diartikan sebagai perilaku yang bisa membedakan antara hal yang baik dan yang buruk, sedangkan Mumayyiz adalah orangnya. Bagi seseorang seseorang yang belum Tamyiz, apabila dia berwudhu maka wudhunya tidak sah, begitu juga dengan anak kecil, orang gila, dan juga orang mabuk.

3. Suci dari haid dan nifas

Wanita yang sedang mengalami haid ataupun nifas, tentu mereka dilarang untuk melaksanakan shalat ataupun membaca al-Quran, karena itu mereka tidak perlu melakukan wudhu karena hukumnya tidak sah.

4. Bersih dari hal-hal yang menghalangi air menyentuh kulit

Agar wudhu menjadi sah, air harus membasuh kulit tanpa penghalang, karena itu apabila dikulit terdapat sesuatu yang bisa menghalangi air misal seperti cat, kutek, dan semacamnya harus dibersihkan terlebih dahulu. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ، فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

“Ada seseorang yang berwudhu dan meninggalkan satu tempat di kakinya (tidak dibasuh), kemudian Nabi sallallahu’aalihi wa salam melihatnya, maka beliau bersabda, “Kembali dan perbaiki wudhu mu”, maka dia kembali kemudian dia shalat.” (HR. Muslim no.243)

5. Bersih dari sesuatu yang bisa merubah air

Air yang digunakan untuk berwudhu selain suci juga harus terhindar dari sesuatu benda yang bisa mengubah warna asli air.

Baca Juga:   Syarat dan Tata Cara Melaksanakan Shalat Idul Fitri

6. Mengetahui rukun wudhu

Selain air yang suci, berwudhu juga harus berdasarkan rukun wudhu yang benar, karena apabila kita berwudhu tidak sesuai rukun wudhu, maka wudhunya menjadi tidak sah.

7. Tidak meyakini fardhu wudhu adalah sunnah

Makusdnya adalah apabila kamu menganggap salah satu rukun wudhu misalnya membasuh tangan adalah sunnah, maka wudhu menjadi tidak sah.

8. Air yang suci dan mensucikan

Salah satu syarat sah mutlak dalam berwudhu adalah air yang digunakan harus suci dan mensucikan, maksudnya adalah air yang kita gunakan haruslah bersih dari najis dan juga air bukan dari hasil mencuri.

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ

“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Tirmidzi)

Juga firman Allah SWT dalam Al-Quran surat An Nisa yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” (QS. An Nisa : 29)

9. Telah masuk waktu shalat

Untuk orang yang selalu berhadas, maka dianjurkan untuk selalu berwudhu agar senantiasa suci dan agar shalat yang akan kita laksanakan menjadi sah.

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Seandainya tidak memberatkan ummatku, pastilah aku akan perintahkan untuk berwudhu pada tiap mau shalat, dan wudhu itu dengan bersiwak.” (HR Ahmad dengan isnad yang shahih)

10. Berulang-ulang

Syarat sah wudhu yang terakhir menurut Syekh Nawawi adalah berulang-ulang, ini juga ditujukan untuk orang yang selalu berhadas ataupun sering terkena hadas.

Dari Tsauban bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda, “Tidaklah menjaga wudhu kecuali orang yang beriman.” (HR Ibnu Majah, Al-Hakim, Ahmad dan Al-Baihaqi)

Rukun/Tata Cara Wudhu

Setelah kita mengetahui apa-apa saja syarat sahnya wudhu, selanjutnya adalah kita harus tau rukun/tata-cara wudhu yang baik dan benar.

1. Niat dalam hati

Segala sesuatu berawal dari niat, begitu juga dengan wudhu. Apabila seseorang dengan niat membersihkan atau mengurangi rasa panas pada anggota wudhu misal tangan, wajah, atau kaki, maka orang tersebut tidak dianggap berwudhu.

الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan…“ (HR. Muttafaqun Alaihi)

Adapun lafadz doa niat wudhu adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

“Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardhu (wajib) karena Allah ta’ala.”

2. Membasuh wajah, berkumur dan istinsyaq

Rukun yang kedua adalah membasuh wajar, termasuk juga didalamnya berkumur-kumur dan istinsyaq. Apa itu istinsyaq?. Istinsyaq diartikan sebagai menghirup air kedalam rongga hidung, ini dilakukan pada saat kita berwudhu.

Nabi Muhammad sallallahu’aalihi wa salam bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:

كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ « هَكَذَا أَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ

“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam) jika beliau akan berwudhu, Beliau mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnya) sampai ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyela jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku.” (HR. Abu Dawud)

3. Membasuh kedua tangan sampai siku

Rukun yang selanjutnya adalah membasuh kedua tangan sampai ke siku.

ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا

“…Kemudian Beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali…” (HR. Muttafaqun Alaihi)

4. Mengusap kepala (termasuk kedua telinga)

 ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ

“Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya, (dengan cara) menyapunya kedepan dan kebelakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya.” (HR. Muttafaqun Alaihi)

5. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

 ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“…Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki…” (HR. Muttafaqun Alaihi)

6. Tertib/berurutan

Tata cara/rukun wudhu yang terakhir adalah tertib, ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 6 yang berbunyi:

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“…maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (QS. Al-Maidah : 6)

Pada saat berwudhu, batas waktu/jarak membasuh anggota badan yang satu dengan yang lain ditandai keringnya anggota wudhu yang dibasuh sebelumnya.

Baca Juga:   Syarat dan Tata Cara Membayar Zakat Fitrah Beserta Doa Niat

Sunnah Wudhu

Setelah mempelajari syarat syah dan rukun/tata-cara berwudhu yang baik dan benar, alangkah lebih baik lagi apabila kita mengamalkan juga sunnah-sunnah wudhu seperti yang dilakukan Nabi Muhammad sallallahu’aalihi wa salam.

1. Bersiwak

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tentang bersiwak

Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan berwudu. (Hadis sahih, Irwaul Gholil no 70)

2. Sebelum berwudhu membasuh kedua tangan sampai pergelangan

3. Membasuh anggota wudhu sebanyak 3 kali

Ustman bin Affan pernah mempraktikkan wudhu Nabi Muhammad sallallahu’aalihi wa salam seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim berikut ini:

أَنَّ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِى الإِنَاءِ فَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ، وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثَ مِرَارٍ ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ، ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Humran bekas budak dari Utsman menceritakan bahwa ia pernah melihat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu meminta air dalam wadah untuk berwudhu. Lalu ia menuangkan air pada telapak tangannya tiga kali, lalu membasuh kedua telapak tangannya. Kemudian memasukkan tangannya lagi ke dalam wadah, lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh wajah tiga kali. Kemudian membasuh tangan hingga siku tiga kali. Kemudian mengusap kepala, lalu membasuh kaki hingga mata kaki sebanyak tiga kali. Kemudian ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat lalu tidak berbicara dalam dirinya (maksudnya: tidak memikirkan urusan dunia dan hal-hal yang tidak terkait dengan shalat, pen.), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 159 dan Muslim, no. 226)

4. Membasuh disela-sela jenggot yang tebal

كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ « هَكَذَا أَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ

“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam) jika beliau akan berwudhu, Beliau mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnya) sampai ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyela jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku.”(HR. Abu Dawud)

5. Membasuh pada sela-sela jari kaki dan tangan

6. Menyeka anggota wudhu

Setelah dibasuh dengan air, sebaiknya kita menyeka/menggosok-gosok pada bagian tersebut sebelum kering menggunakan telapak tangan.

Dari Abdullah bin Zaid berkata: Bahwasanya Nabi Muhammad sallallahu’aalihi wa salam didatangkan air kepada dia (sebanyak) dua per tiga mud, lalu dia mendalk (menggosok) kedua lengannya. (Hadits shohih riwayat Ahmad dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

7. Mendahulukan tangan dan kaki kanan

Rasulullah sallallahu’aalihi wa salam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

Jika kalian berwudu maka mulailah dengan bagian kanan kalian. (Hadis sahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Baihaqi, Tabrani dan Ibnu Hibban dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Imam Nawawi).

Selain itu hal ini disebutkan dalam Mathalib Ulii An-Nuha Mamzujan Bighoyatil Muntaha Al-Hanbali yang berbunyi:

“Di antara sunnah wudhu yaitu memulai dengan bagian kanan (yaitu mencuci kedua tangan dan kaki kanan walaupun bagi orang yang bangun tidur di malam hari.) ia mencuci tangan kanannya sebelum yang kiri.”

8. Membaca doa sesudah wudhu

Setelah selesai, alangkah baik apabila kita membaca doa sesudah wudhu, adapun lafadz doa sesudah wudhu adalah sebagai berikut:

اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَاالتَّوَّابِيْنَ، وَجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ، وَجْعَلْنِىْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ

“Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah yang esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang ahli taubat , dan jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba Mu yang shaleh.”

Itu dia sedikit pembahasan wudhu mulai dari syarat sah, rukun dan tata cara wudhu, doa sebelum dan sesudah wudhu, beserta sunnah-sunnahnya. Wallahu a’lam.

Baca Juga:   Syarat dan Tata Cara Melaksanakan Shalat Idul Fitri
error: Content is protected !!